Welcom to BaONG Blog
JellyMuffin.com - The place for profile layouts, flash generators, glitter graphics, backgrounds and codes

Thursday, July 2, 2015

PEMBAHAGIAN WALI-WALI ALLAH

PEMBAHAGIAN WALI-WALI ALLAH




1. Al-Aqtab
Al Aqtab berasal dari kata tunggal Al Qutub yang mempunyai erti penghulu. Dari sini dapat kita simpulkan bahwa Al Aqtab adalah darjat kewalian yang tertinggi. Jumlah wali yang mempunyai darjat tersebut hanya terbatas seorang saja untuk setiap masanya. Seperti Abu Yazid Al Busthami dan Ahmad Ibnu Harun Rasyid Assity. Di antara mereka ada yang mempunyai kedudukan di bidang pemerintahan, meskipun tingkatan taqarrubnya juga mencapai darjat tinggi, seperti para Khulafa’ur Rasyidin, Al Hasan Ibnu Ali, Muawiyah Ibnu Yazid, Umar Ibnu Abdul Aziz dan Al Mutawakkil.
2. Al-A immah
Al Aimmah berasal dari kata tunggal imam yang mempunyai erti pemimpin. Setiap masanya hanya ada dua orang saja yang dapat mencapai darjat Al Aimmah. Keistimewaannya, ada di antara mereka yang pandangannya hanya tertumpu ke alam malakut saja, ada pula yang pandangannya hanya tertumpu di alam malaikat saja.
3. Al-Autad
Al Autad berasal dari kata tunggal Al Watad yang mempunyai erti pasak. Yang memperoleh darjat Al Autad hanya ada empat orang saja setiap masanya. Kami menjumpai seorang di antara mereka dikota Fez di Morocco. Mereka tinggal di utara, di timur, di barat dan di selatan bumi, mereka bagaikan penjaga di setiap pelusuk bumi.
4. Al-Abdal
Al Abdal berasal dari kata Badal yang mempunyai erti menggantikan. Yang memperoleh darjat Al Abdal itu hanya ada tujuh orang dalam setiap masanya. Setiap wali Abdal ditugaskan oleh Allah swt untuk menjaga suatu wilayah di bumi ini. Dikatakan di bumi ini mempunyai tujuh daerah. Setiap daerah dijaga oleh seorang wali Abdal. Jika wali Abdal itu meninggalkan tempatnya, maka ia akan digantikan oleh yang lain. Ada seorang yang bernama Abdul Majid Bin Salamah pernah bertanya pada seorang wali Abdal yang bernama Muaz Bin Asyrash, amalan apa yang dikerjakannya sampai ia menjadi wali Abdal? Jawab Muaz Bin Asyrash: “Para wali Abdal mendapatkan darjat tersebut dengan empat kebiasaan, yaitu sering lapar, gemar beribadah di malam hari, suka diam dan mengasingkan diri”.
5. An-Nuqaba’
An Nuqaba’ berasal dari kata tunggal Naqib yang mempunyai erti ketua suatu kaum. Jumlah wali Nuqaba’ dalam setiap masanya hanya ada dua belas orang. Wali Nuqaba’ itu diberi karamah mengerti sedalam-dalamnya tentang hukum-hukum syariat. Dan mereka juga diberi pengetahuan tentang rahsia yang tersembunyi di hati seseorang. Selanjutnya mereka pun mampu untuk meramal tentang watak dan nasib seorang melalui bekas jejak kaki seseorang yang ada di tanah. Sebenarnya hal ini tidaklah aneh. Kalau ahli jejak dari Mesir mampu mengungkap rahsia seorang setelah melihat bekas jejaknya. Apakah Allah tidak mampu membuka rahsia seseorang kepada seorang waliNya?
6. An-Nujaba’
An Nujaba’ berasal dari kata tunggal Najib yang mempunyai erti bangsa yang mulia. Wali Nujaba’ pada umumnya selalu disukai orang. Dimana sahaja mereka mendapatkan sambutan orang ramai. Kebanyakan para wali tingkatan ini tidak merasakan diri mereka adalah para wali Allah. Yang dapat mengetahui bahawa mereka adalah wali Allah hanyalah seorang wali yang lebih tinggi darjatnya. Setiap zaman jumlah mereka hanya tidak lebih dari lapan orang.
7. Al-Hawariyun
Al Hawariyun berasal dari kata tunggal Hawariy yang mempunyai erti penolong. Jumlah wali Hawariy ini hanya ada satu orang sahaja di setiap zamannya. Jika seorang wali Hawariy meninggal, maka kedudukannya akan diganti orang lain. Di zaman Nabi hanya sahabat Zubair Bin Awwam saja yang mendapatkan darjat wali Hawariy seperti yang dikatakan oleh sabda Nabi: “Setiap Nabi mempunyai Hawariy. Hawariyku adalah Zubair ibnul Awwam”. Walaupun pada waktu itu Nabi mempunyai cukup banyak sahabat yang setia dan selalu berjuang di sisi beliau. Tetapi beliau saw berkata demikian, kerana beliau tahu hanya Zubair sahaja yang meraih darjat wali Hawariy. Kelebihan seorang wali Hawariy biasanya seorang yang berani dan pandai berhujjah.
8. Al-Rajbiyun
Ar Rajbiyun berasal dari kata tunggal Rajab. Wali Rajbiyun itu adanya hanya pada bulan Rajab saja. Mulai awal Rajab hingga akhir bulan mereka itu ada. Selanjutnya keadaan mereka kembali biasa seperti semula. Setiap masa, jumlah mereka hanya ada empat puluh orang sahaja. Para wali Rajbiyun ini berpecah di berbagai wilayah. Di antara mereka ada yang saling mengenal, tapi kebanyakannya tidak.
Disebutkan bahawa ada sebahagian orang dari Wali Rajbiyun yang dapat melihat hati orang-orang Syiah melalui kasyaf. Ada dua orang Syiah yang mengaku sebagai Ahlu Sunnah dihadapan seorang wali Rajbiyun. Lalu keduanya diusir, kerana wali Rajbiyun itu melihat keduanya berupa dua ekor babi, sebab keduanya membenci Abu Bakar, Umar dan sahabat-sahabat lain. Keduanya hanya mencintai Ali dan sejumlah sahabatnya. Ketika keduanya bertanya padanya, maka si wali tersebut berkata: “Aku lihat kamu berdua berupa dua ekor babi, kerana kamu menganut mazhab Syiah dan membenci para sahabat Nabi”. Ketika berita itu disedari kebenarannya oleh keduanya, maka keduanya mengaku benar dan segera memohon ampun kepada Allah. Demikianlah secebis kisah kasyaf seorang wali Rajbiyun.
Pada umumnya, di bulan Rajab, sejak awal harinya, para wali Rajbiyun menderita sakit, sehingga mereka tidak dapat menggerakkan anggota tubuhnya. Selama bulan Rajab, mereka senantiasa mendapat berbagai pengetahuan secara kasyaf, kemudian mereka memberitahukannya kepada orang lain. Anehnya penderitaan mereka hanya berlangsung di bulan Rajab. Setelah bulan Rajab berakhir, maka kesehatan mereka kembali seperti semula.
9. Al-Khatamiyun
Al Khatamiyun berasal dari kata Khatam yang mempunyai erti penutup atau penghabisan. Maksudnya darjat AlKhatamiyun adalah sebagai penutup para wali. Jumlah mereka hanya seorang. Tidak ada darjat kewalian umat Muhammad yang lebih tinggi dari tingkatan ini. Jenis wali ini hanya akan ada di akhir masa, iaitu ketika Nabi Isa as.datang kembali.
Di antaranya, ada para Wali yang hatinya seperti Nabi Adam as. Jumlah mereka hanya tiga ratus orang. Sabda Nabi saw: “Mereka berhati seperti hati Adam as”. Mereka diberi anugerah tersendiri oleh Allah swt. Syeikh Muhyidin berkata: “Jumlah wali jenis ini bukan hanya tiga ratus orang saja dikalangan umatnya, tetapi ada juga dikalangan umat-umat lain. Tentang keberadaan mereka hanya dapat diketahui secara kasyaf. Setiap masanya dunia tidak pernah kosong dari keberadaan mereka. Mereka mempunyai budi pekerti Ilahi, mereka amat dekat disisi Allah. Doa mereka selalu diterima oleh Allah.
Mereka senang dengan doa: “Wahai Tuhan kami, sesungguhnya kami suka menganiaya diri kami. Jika Engkau tidak berkenan memberi ampunan dan kasih sayang kepada kami, pasti kami akan termasuk orang-orang yang rugi”. Di antara mereka ada pula yang berhati seperti hati Nabi Nuh as. Jumlah mereka hanya empat puluh orang di setiap zamannya. Hati mereka seperti hatinya Nabi Nuh as. Beliau adalah Nabi dan Rasul pertama. Mereka suka berdoa, seperti doa Nabi Nuh as yang ertinya: “TuhanKu, ampunilah aku dan kedua orang tuaku dan sesiapa sahaja dari orang beriman, lelaki ataupun wanita yang masuk ke dalam rumahku dan jangan Engkau tambahkan bagi orang-orang yang berbuat aniaya kecuali kebinasaan”. Tingkatan wali dari jenis ini sukar diraih orang, sebab ciri khas mereka sangat keras dalam menegakkan agama, seperti sifat Nabi Nuh as. Mereka selalu memperhatikan sabda Nabi saw yang ertinya: “Barangsiapa yang beribadah selama empat puluh hari dengan penuh ikhlas, maka akan terpancar ilmu hakikat dari lubuk hatinya ke lidahnya”.
Di antaranya pula ada yang berhati seperti hati Nabi Ibrahim. Jumlah wali jenis ini hanya ada tujuh orang dalam setiap zamamnya. Rasulullah saw pernah menceritakan tentang mereka dalam salah satu sabdanya. Mereka suka dengan doa
Nabi Ibrahim as yang ertinya: “Tuhanku, berikan kepadaku kebijaksanaan, dan ikutkan aku kepada orang-orang salih”. Mereka diberi keistimewaan yang luar biasa, hati mereka dibersihkan dari rasa ragu, rasa dengki dan rasa buruk sangka terhadap Khalik maupun makhluk, mereka terlindung dari sebarang perbuatan buruk. Syeikh Muhyiddin berkata: “Aku pernah menemui salah seorang dari jenis wali tersebut, aku kagum dengan kemuliaan budi pekertinya, luas pengetahuannya dan kesucian hatinya, sampai aku beranggapan bahwa kesenangan syurga telah dipercepatkan baginya”. Di antaranya pula ada yang berhati seperti hati Malaikat Jibril. Jumlah wali jenis ini hanya ada lima orang sahaja dalam setiap zamannya. Rasulullah saw pernah menyebut tentang mereka dalam salah satu sabdanya. Mereka diberi kekuatan seperti yang diberikan kepada malaikat Jibril yang amat kuat.
Di hari kiamat kelak, mereka akan dikumpulkan dengan malaikat Jibril. Dan malaikat Jibril senantiasa membantu rohani mereka, sehingga mereka selalu terpimpin. Di antaranya pula ada yang berhati seperti hati Malaikat Mikail as. Jumlah mereka hanya ada tiga orang sahaja dalam setiap masanya. Keistimewaan mereka suka berlemahlembut terhadap semua orang, dan mereka diberi kekuatan seperti Malaikat Mikail. Di antaranya pula ada yang berhati seperti hati Malaikat Israfil. Jumlah mereka hanya ada satu orang sahaja dalam setiap zamann. Nabi saw pernah menyebut tentang mereka dalam salah satu sabdanya. Menurut pengamatan kami,Syeikh Abu Yazid Al Bustami termasuk salah seorang dari jenis wali ini. Termasuk juga Nabi Isa as. Syeikh Al Muhyiddin berkata: “Di antara tokoh-tokoh sufi ada yang diberi hati seperti hati Nabi Isa, kedudukan mereka sangat tinggi di sisi Allah swt”. Di antaranya pula ada yang diberi hati seperti hati Nabi Daud as. Jumlah mereka di setiap masa hanya terbatas beberapa orang saja. Mereka diberi berbagai keistimewaan, kedudukan tinggi di dunia dan ketebalan iman.
10. Rijalul Ghaib
Di antaranya pula ada yang diberi pangkat Rijalul Ghaib atau manusia-manusia misteri. Jumlah wali jenis ini hanya sepuluh orang di setiap masa. Mereka orang-orang yang selalu khusyu’, mereka tidak berbicara kecuali dengan perlahan atau berbisik, kerana mereka merasa bahwa Allah swt selalu mengawasi mereka. Mereka sangat misteri, sehingga keberadaan mereka tidak banyak dikenal kecuali oleh ahlinya. Mereka selalu rendah hati, malu dan mereka tidak banyak mementingkan kesenangan dunia. Boleh dikata segala tindak tanduk mereka selalu misteri. Di antaranya pula ada yang selalu menegakkan agama Allah. Jumlah mereka hanya lapan belas orang di setiap masa. Ciri khas mereka adalah selalu menegakkan hukum-hukum Allah. Dan mereka bersikap keras terhadap segala penyimpangan.
Syeikh Abu Madyan termasuk salah seorang di antara mereka. Beliau berkata kepada murid-muridnya: “Tampilkan kepada manusia tanda redha kamu sebagaimana kamu menampilkan rasa ketidaksenangan kamu, dan perlihatkan
kepada manusia segala nikmat yang diberikan Allah, baik yang zahiriyah mahupun batiniyah seperti yang dianjurkan Allah dalam firmanNya berikut:
“Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaknya engkau menyebut-nyebutnya sebagai tanda bersyukur”26
26 Surah Adh Dhuha: 11
11. Rijalul Quwwatul Ilahiyah
Di antaranya pula ada wali yang dikenal dengan nama Rijalul Quwwatul Ilahiyah ertinya orang-orang yang diberi kekuatan oleh Tuhan. Jumlah mereka hanya lapan orang sahaja di setiap zaman. Wali jenis ini mempunyai keistimewaan, iaitu sangat tegas terhadap orang-orang kafir dan terhadap orang-orang yang suka memperkecilkan agama. Sedikit pun mereka tidak takut oleh kritikan orang. Di kota Fez ada seorang yang bernama Abu Abdullah Ad Daqqaq. Beliau dikenal sebagai seorang wali dari jenis Rijalul Quwwatul Ilahiyah. Di antaranya pula ada jenis wali yang sifatnya keras dan tegas. Jumlah mereka hanya ada 5 orang disetiap zaman. Meskipun watak mereka tegas, tetapi sikap mereka lemah lembut terhadap orang-orang yang suka berbuat kebajikan.
12. Rijalul Hanani Wal Athfil Ilahi
Di antaranya pula ada jenis wali yang dikenal dengan nama Rijalul Hanani Wal Athfil Illahi ertinya mereka yang diberi rasa kasih sayang Allah. Jumlah mereka hanya ada lima belas orang di setiap zamannya. Mereka selalu bersikap kasih sayang terhadap manusia baik terhadap yang kafir mahupun yang mukmin. Mereka melihat manusia dengan pandangan kasih sayang, kerana hati mereka dipenuhi rasa insaniyah yang penuh rahmat.
13. Rijalul Haibah Wal Jalal
Di antaranya pula ada yang termasuk dalam golongan Rijalul Haibah Wal Jalali. Jumlah mereka hanya empat orang di setiap masa. Jenis wali tingkatan ini dikenal sebagai orang-orang yang hebat dan mengkagumkan, meskipun sifat mereka lemah lembut, tetapi orang-orang yang menemui mereka akan tunduk. Mereka tidak dikenal di bumi, tapi mereka adalah orang-orang yang dikenal di langit. Di antara mereka ada yang mempunyai hati seperti Nabi Muhammad saw, ada pula yang mempunyai hati seperti Nabi Syuaib, Nabi Salleh dan Nabi Hud. Sayyid Muhyiddin berkata: “Aku pernah menemui wali golongan ini di kota Damsyik”.
14. Rijalul Fathi
Di antaranya pula ada yang termasuk dalam golongan Rijalul Fathi. Ertinya rahsia-rahsia Allah swt selalu terbuka bagi mereka. Jumlah mereka hanya ada 24 orang di setiap masanya. Jumlah mereka sama dengan bilangan jam, yaitu 24 orang. Meskipun demikian, mereka tidak pernah berkumpul di satu tempat dalam jumlah sebanyak itu. Adanya mereka menyebabkan terbukanya pintu-pintu pengetahuan, baik yang nyata mahupun yang rahsia.
15. Rijalul Ma’arij Al’-‘Ula
Di antaranya pula ada yang termasuk dalam kelompok Rijalul Ma’arij Al ‘Ula. Jumlah mereka hanya tujuh orang di setiap masa. Mereka termasuk wali-wali tingkatan tinggi, hamper setiap saatnya mereka naik ke alam malakut, mereka adalah orang-orang pilihan.
16. Rijalu Tahtil Asfal
Di antaranya pula ada yang termasuk dalam golongan Rijalu Tahtil Asfal, iaitu mereka yang berada di alam terbawah di bumi. Jumlah mereka tidak lebih dari 21 orang di setiap masa. Ciri khas wali ini, hati mereka selalu hadir di hadapan Allah.
17. Rijalul Imdadil Ilahi Wal Kaun
Di antaranya pula ada yang termasuk dalam golongan Rijalul Imdadil Ilahi Wal Kauni, iaitu mereka yang selalu mendapat kurniaan Ilahi. Jumlah mereka tidak lebih dari tiga orang di setiap masa. Mereka selalu mendapat pertolongan Allah untuk menolong manusia sesamanya. Sikap mereka dikenal lemah lembut dan berhati penyayang. Mereka senantiasa menyalurkan anugerah-anugerah Allah kepada manusia. Pokoknya, adanya mereka menunjukkan berpanjangannya kasih sayang Allah kepada makhlukNya.
18. Ilahiyun Rahmaniyun
Di antaranya pula ada yang termasuk dalam golongan Ilahiyun Rahmaniyun, iaitu manusia-manusia yang diberi rasa kasih sayang yang luar biasa. Jumlah mereka ini hanya tiga orang di setiap masa. Sifat mereka seperti wali-wali Abdal, meskipun mereka tidak termasuk didalamnya. Kegemaran mereka suka mengkaji firman-firman Allah.
19. Rijalul Istithaalah
Di antaranya pula ada yang termasuk dalam golongan Rijalul Istithaalah, iaitu manusia-manusia yang selalu mendapat pertolongan Allah. Jumlah mereka hanya seorang dalam setiap masa. Yang termasuk kelompok ini adalah Syeikh Abdul Qadir Jilani. Mereka selalu menolong manusia dan mereka sangat ditakuti.
20. Rijalul Ghina Billah
Di antaranya pula ada yang termasuk dalam golongan Rijalul Ghina Billah, iaitu orang-orang yang tidak memerlukan kepada manusia sedikit pun. Jumlah mereka hanya dua orang di setiap masanya. Mereka selalu mendapat siraman rohani dari alam malakut, sehingga kelompok ini tidak memerlukan kepada bantuan sesiapa pun, selain bantuan Allah.
21. Rijalu ‘Ainut Tahkim Waz Zawaid
Di antaranya pula ada yang termasuk dalam golongan Rijalu ‘Ainut Tahkim Waz Zawaid. Jumlah mereka hanya sepuluh orang di setiap zamannya. Mereka senantiasa meningkatkan keyakinannya terhadap masalah-masalah yang ghaib. Seluruh hidup mereka terlihat aktif di semua aktivitas ibadah.
22. Rijalul Isytiqaq
Diantaranya pula ada yang termasuk dalam golongan RijalulIsytiqaq, iaitu mereka yang selalu rindu kepada Allah. Jumlah mereka hanya lima orang di setiap zamannya. Kegemaran mereka hanya memperbanyakkan solat di siang hari dan di malam hari.
23. Al-Mulamatiyah
Di antaranya, ada yang termasuk dalam golongan Al Mulamatiyah. Mereka tergolong dari wali darjat yang tinggi, pimpinan tertingginya adalah Nabi Muhammad saw. Mereka sangat berhati-hati dalam melaksanakan syariat Islam. Segala sesuatu mereka tempatkan di tempatnya yang tepat. Tindak tanduk mereka selalu didasari rasa takut dan hormat kepada Allah. Sudah tentu keberadaan mereka sangat diperlukan, meskipun mereka tidak terbatas. Ada kalanya jumlah mereka meningkat, tetapi ada kalanya pula jumlah mereka berkurangan.
24. Al-Fuqara’
Di antaranya, ada pula yang termasuk dalam golongan AlFuqara’. Jumlah mereka ada kalanya meningkat dan ada kalanya berkurangan. Ciri khas mereka ini selalu merendahkan diri. Mereka merasa rendah di hadapan Allah.
25. As-Sufiyyah
Di antaranya, ada pula yang termasuk dalam kelompok As Sufiyyah. Jumlah mereka tidak terbatas. Ada kalanya membesar dan ada kalanya pula berkurangan. Mereka dikenal sebagai wali yang amat luhur budi pekertinya. Mereka selalu menghias diri mereka dengan kebajikan-kebajikan yang sesuai dengan ketinggian budi pekerti mereka.
26. Al-‘Ibaad
Di antaranya, ada pula yang termasuk dalam golongan Al ‘Ibaad. Mereka dikenali sebagai orang-orang yang suka beribadah. Pokoknya, ibadah merupakan kegiatan mereka sehari-hari, mereka suka mengasingkan diri di gunung-gunung, di lembah-lembah dan di pantai-pantai. Di antara mereka ada yang mahu bekerja, tetapi kebanyakan dari mereka meninggalkan semua kegiatan duniawi. Puasa sepanjang masa dan beribadah di malam hari merupakan syiar mereka. Sebab, menurut mereka dunia ini adalah tempat untuk menyuburkan amal-amal di akhirat. Abu Muslim Al Khaulani adalah di antara wali tingkatan ini. Biasanya jika ia merasa letih ketika beribadah di malam hari, maka ia memukul kedua kakinya seraya berkata: “Kamu berdua lebih pantas dipukul dari binatang ternakanku”.
27. Az-Zuhaad
Di antaranya, ada pula yang termasuk dalam golongan Az Zuhaad. Mereka termasuk orang-orang yang suka meninggalkan kesenangan duniawi. Mereka mempunyai harta, tetapi mereka tidak pernah menikmatinya sedikitpun, sebab, seluruh hartanya mereka nafkahkan pada jalan Allah. Sayyid Muhyiddin berkata: “Di antara bapa saudaraku ada yang tergolong dari wali tingkatan ini”. Disebutkan bahawa Syeikh Abdullah At Tunisi, seorang ahli ibadah di masanya, ia dikenal sebagai salah seorang wali Az Zuhad. Pada suatu hari, penguasa kota Tilmasan menghampiri tempat Syeikh Abdullah seraya berkata kepadanya: “Wahai Syeikh Abdullah, apakah aku boleh solat dengan pakaian kebesaranku ini?” Mendengar pertanyaan itu, Syeikh Abdullah tertawa. Tanya si penguasa: “Mengapa engkau tertawa, wahai Syeikh? Jawab Syeikh Abdullah: “Aku tertawa kerana lucunya pertanyaanmu tadi, sebab mengapa engkau bertanya kepadaku seperti itu, padahal pakaianmu dan makananmu dari harta yang haram?” Mendengar jawaban Syeikh Abdullah seperti itu, maka si penguasa menangis dan menyatakan taubatnya kepada Syeikh, selanjutnya ia meninggalkan kekuasaannya demi untuk mengabdikan diri kepada Syeikh Abdullah, sehingga beliau berkata: “Mintalah doa kepada Yahya Bin Yafan, sesungguhnya ia adalah seorang penguasa dan seorang ahli zuhud, andaikata aku diuji sepertinya, mungkin aku tidak dapat melaksanakannya”.
28. Rijalul Maa’i
Di antaranya, ada pula yang termasuk dalam golongan Rijalul Maa’i. Mereka adalah para wali yang senantiasa beribadah di pinggir-pinggir laut dan sungai. Mereka tidak banyak dikenal, kerana mereka suka mengasingkan diri. Disebutkan, bahwa Syeikh Abu Saud Asy Syibli pernah berada di pinggir sungai Dajlah di Baghdad. Ketika hatinya bergerak: “Apakah ada di antara hamba-hamba Allah yang beribadah di dalam air?” Tiba-tiba ada seorang yang muncul dari dalam air seraya berkata: “Ada, wahai Abu Saud. Di antara hamba-hamba Allah ada juga yang beribadah di dalam air dan aku termasuk di antara mereka. Aku berasal dari negeri Takrit, aku sengaja keluar, kerana beberapa hari mendatang akan terjadi musibah di negeri Baghdad”. Kemudian ia menghilang ke dalam air. Kata Abu Saud: “Ternyata tidak lebih dari lima belas hari musibah memang terjadi.”
29. Al-Afrad
Di antaranya, ada pula yang termasuk dalam golongan Al Afrad. Mereka termasuk wali-wali berkedudukan tinggi. Di antara mereka adalah Syeikh Muhammad Al ‘Awani, sahabat karib Syeikh Abdul Qodir Al Jailani. Mereka ini jarang dikenal manusia awam, kerana kedudukan mereka terlalu tinggi. Jumlah mereka tidak terbatas. Ada kalanya jumlah mereka meningkat dan ada kalanya pula berkurangan.
30. Al-Umana’
Di antaranya, ada pula yang termasuk dalam golongan Al Umana’ artinya orang-orang yang dapat diberikan kepercayaan. Di antara mereka adalah Abu Ubaidah Ibnul Jarrah, sepertimana yang disebutkan oleh Nabi saw: “Abu Ubaidah adalah orang yang paling dapat diberi kepercayaan di antara umat ini”. Jumlah mereka tidak terbatas. Mereka jarang dikenal manusia, kerana mereka tidak pernah menonjol ditengah masyarakatnya.
31. Al-Qurra’
Di antaranya, ada pula yang termasuk dalam golongan Al Qurra’. Mereka ahli membaca Al Quran. Menurut sebuah hadis, wali-wali ini termasuk orang-orang yang dekat dengan Allah, kerana mereka ahli Al Quran. Dan mereka harus dimuliakan. Syeikh Sahal Bin Abdullah At Tusturi termasuk di antara mereka.
32. Al-Ahbab
Di antaranya, ada pula yang termasuk dalam golongan Al Ahbab, iaitu orang-orang yang dikasihi. Jumlah mereka tidak terbatas, adakalanya meningkat, adakalanya pula berkurangan. Mereka mencapai tingkatan ini disebabkan mereka melaksanakan segala ibadah dan takarrub kerana cinta kepada Allah. Ibadah yang didasari cinta, lebih baik dari ibadah yang berharap pahala dan syurga. Maka sebagai imbalan baik bagi mereka, mereka mendapat kasih sayang Allah yang luar biasa.
33. Al-Muhaddathun
Di antaranya, ada pula yang termasuk dalam golongan Al Muhaddathun, iaitu orang-orang yang selalu diberi ilham oleh Allah. Menurut hadits Nabi, ada sebahagian dari umatku yang diberi ilham dari Allah. Maka Umar Bin Al Khattab termasuk salah satu dari mereka. Sayyid Muhyiddin Ibnu Arabi ra berkata: “Di zaman kami ada pula wali-wali Al Muhaddathun, di antaranya adalah Abul Abbas Al Khasyab dan Abu Zakariya Al Baha-i”. Para wali yang tergolong dalam golongan ini senantiasa mendapat bisikan-bisikan rohani dari penduduk alam malakut, misalnya dari Jibril, Mikail, Israfil dan Izrail, sebab rohani mereka sudah dapat menembus alam arwah atau alam malakut.
34. Al-Akhilla’
Di antaranya, ada pula yang termasuk dalam golongan Al Akhilla’. Mereka adalah orang-orang yang dicintai Allah, sebab segala ibadah yang mereka lakukan selalu didasari cinta kepada Allah. Jumlah mereka tidak terbatas, adakalanya meningkat dan adakalanya berkurangan.
35. As-Samra’
Di antaranya, ada pula yang termasuk dalam golongan As Samra’. Erti kata As Samra’ adalah berkulit hitam manis. Jumlah mereka tidak terbatas. Mereka termasuk orang-orang yang senantiasa berdialog dengan Allah, sebab hati mereka selalu dipenuhi rasa ketuhanan yang tiada taranya.
36. Al-Wirathah
Di antaranya, ada pula yang termasuk dalam golongan Al Wirathah, iaitu mereka yang mendapat warisan dari Allah. Mereka adalah para ulama, pewaris para Nabi. Kelompok ini termasuk orang-orang yang gemar beribadah sampai melebihi dari batas kemampuannya. Mereka suka mengasingkan diri di tempat-tempat terpencil demi untuk memenuhi kecintaannya kepada Allah.
Gambar: Lakaran wajah Shaykh Ahmad Al-Rifai & Shaykh Abdul Qadir Al-Jilani
Dari: PONDOK HABIB

Wednesday, June 24, 2015

DrMAZA.com


TIADA ISTILAH ' TELAGA CARI TIMBA'

"Kata Anas bin Malik r.a: "Seorang wanita datang kepada Rasulullah s.a.w dan menawarkan dirinya (untuk menjadi isteri baginda s.a.w). Kata wanita tersebut: "Wahai Rasululullah! apakah engkau inginkan daku?". Anak perempuan Anas mengulas cerita Anas dengan berkata: "Alangkah kurang malunya dia, aduhai malunya, aduhai malunya". Kata Anas: "Wanita itu lebih baik daripadamu, dia teringinkan Nabi s.a.w dan menawarkan dirinya" (Riwayat al-Bukhari).

DrMAZA.com


CEGAH MAKSIAT SEHINGGA MENYEBABKAN KEMATIAN? (1)

 Dalam riwayat Muslim, seorang lelaki datang kepada Rasulullah dan berkata: “Wahai Rasulullah, aku mengubati seorang wanita di hujung bandar. Aku telah melakukan kepadanya (seks), cuma aku tidak menyetubuhinya. Inilah aku, maka hukumlah aku apa yang engkau mahu. Lalu ‘Umar (Ibn Khattab) berkata kepadanya: “Allah telah tutupi keaibanmu jika engkau menutupi dirimu”. Nabi s.a.w tidak berkata apa-apa. Lalu lelaki itu bangun dan pergi. Nabi s.a.w menyuruh seorang lelaki memanggilnya dan membaca kepadanya firman Allah (maksudnya) “Dan dirikanlah sembahyang pada dua bahagian siang (pagi dan petang), dan pada waktu-waktu yang berhampiran dengannya dari malam. Sesungguhnya kebaikan itu menghapuskan kejahatan. Perintah-perintah Allah Yang demikian adalah menjadi peringatan bagi orang-orang Yang mahu beringat” (Surah Hud ayat 114). Maka ada seorang bertanya: “Wahai Nabi Allah, ini khas untuknya sahajakah? Jawab Nabi s.a.w: “Bahkan untuk manusia keseluruhannya”.
Nabi s.a.w tidak menghukum sahabat mengaku melakukan maksiat peribadi, sebaliknya menyuruhnya bertaubat dan melakukan kebaikan. YANG MENGAKU TIDAK HUKUM, BOLEHKAH KITA MENGINTIP UNTUK MENGHUKUM?

DrMAZA.com


APA KATA AL-IMAM AL-GHAZALI TENTANG MENGINTIP UNTUK CEGAH MUNGKAR?

 Al-Imam al-Ghazali (meninggal 505H) dalam kitabnya Ihya ‘Ulum al-Din telah menyebut mengenai rukun-rukun perlaksanaan Hisbah. Hisbah bermaksud perlaksanaan al-Amr bi al-Ma’ruf (menyuruh kepada makruf) apabila ia nyata ditinggalkan, dan al-Nahy ‘An al-Munkar (pencegahan kemunkaran) apabila ia nyata dilakukan. Rukun ketiga yang disebut oleh al-Imam al-Ghazali ialah: “Hendaklah kemungkaran tersebut zahir (jelas) kepada ahli hisbah tanpa perlu melakukan intipan. Sesiapa yang menutup sesuatu kemaksiatan di dalam rumahnya, dan mengunci pintunya maka tidak harus untuk kita mengintipnya. Allah Ta’ala telah melarang hal ini. Kisah ‘Umar dan ‘Abd al-Rahman bin ‘Auf mengenai perkara ini sangat masyhur. Kami telah menyebutnya dalam kitab Adab al-Suhbah (Adab-Adab Persahabatan). Begitu juga apa yang diriwayatkan bahawa ‘Umar r.a. telah memanjat rumah seorang lelaki dan mendapatinya dalam keadaan yang tidak wajar. Lelaki tersebut telah membantah ‘Umar dan berkata: “Jika aku menderhakai Allah pada satu perkara, sesungguhnya engkau telah menderhakaiNya pada tiga perkara. ‘Umar bertanya: “Apa dia?”. Dia berkata: Allah ta’ala telah berfirman (maksudnya: Jangan kamu mengintip mencari kesalahan orang lain). Sesungguhnya engkau telah melakukannya. Allah berfirman: (maksudnya: Masukilah rumah melalui pintu-pintunya). Sesungguhnya engkau telah memanjat dari bumbung. Allah berfirman: (maksudnya: janganlah kamu masuk ke dalam mana-mana rumah yang bukan rumah kamu, sehingga kamu lebih dahulu meminta izin serta memberi salam kepada penduduknya). Sesungguhnya engkau tidak memberi salam. Maka ‘Umar pun meninggalkannya…Maka ketahuilah bahawa sesiapa yang mengunci pintu rumahnya dan bersembunyi di sebalik dindingnya, maka tidak harus seseorang memasuki tanpa izin daripadanya hanya kerana ingin mengetahui perbuatan maksiat. Kecuali jika ia nyata sehingga diketahui oleh sesiapa yang berada di luar rumah tersebut..”(Al-Ghazali, Ihya ‘Ulum al-Din, 3/28, Beirut: Dar al-Khair 1990).

PUaSa IBU Yang Hamil


Fatwa Ibn ‘Abbas dan Ibn Umar tentang wanita hamil dan menyusu?
Soalan: Sesetengah wanita mengandung dan menyusu setiap tahun. Amat sukar bagi mereka untuk berpuasa dan menggantikan puasa jika keadaan demikian. Adakah di sana pandangan fekah yang lebih mudah untuk golongan seperti ini?
Jawapan;
1. Fuqaha (sarjana fekah) bersepakat bahawa wanita hamil dan menyusu boleh berbuka puasa mereka jika tidak mampu. Bahkan wajib untuk mereka berbuka jika membahayakan diri ataupun anak dan janin.
2. Adapun gantian bagi puasa yang mereka buka itu merupakah masalah khilafiyyah yang para fuqaha berbeza pendapat mengenainya. Ada yang mewajib qada dan kifarah seperti Mazhab Syafie dan Hanbali. Di samping mereka membezakan antara berbuka puasa kerana bimbang keselamatan diri dan keselamatan anak. Ada yang mewajibkan qada sahaja di mana mereka seperti keadaan orang yang sakit. Ini pandangan Sufyan al-Thauri, Mazhab Hanafi dan lain-lain. Ada yang memberi pilihan antara qada dan kifarah seperti pandangan Ishaq bin Rahuyah (atau dibaca Rahawaih) seperti yang disebut oleh al-Imam al-Tirmizi dalam sunannya. Ada yang tidak mewajibkan qada dan tidak juga kifarah seperti Mazhab Ibn Hazm al-Andalusi dan ini dianggap ganjil oleh sesetengah ulama.
3. Ya! di sana sebenarnya ada pandangan dari dua tokoh ilmuwan sahabat Nabi iaitu 'Abdullah bin 'Abbas dan 'Abdullah bin 'Umar telah berfatwa dengan fatwa yang meringan bebanan wanita yang mengandung dan menyusukan anak tanpa mengira samada wanita itu kerap mengandung ataupun tidak. Menurut mereka berdua wanita yang mengandung dan menyusu jika buka puasa kerana bimbang keadaan diri ataupun anak hanyalah perlu membayar fidyah (beri makan orang miskin) tidak wajib qada (ganti) puasa.
4. Dalam riwayat al-Tabari dengan sanad yang sahih Ibn 'Abbas menyebut:
إذا خافت الحامل على نفسها ، والمرضع على ولدها في رمضان قال : يفطران ، ويطعمان مكان كل يوم مسكينا ، ولا يقضيان صوما
"Jika wanita hamil bimbang terhadap dirinya, wanita menyusu bimbang terhadap anaknya pada bulan Ramadan maka dia boleh berbuka serta ganti setiap hari dengan memberi makan orang miskin dan tidak perlu ganti puasa"
Dalam riwayat al-Daraqutni dengan sanad yang sahih, Ibn 'Umar atau Ibn ‘Abbas berkata:
الْحَامِلُ وَالْمُرْضِعُ تُفْطِرُ وَلَا تَقْضِي
"Wanita yang hamil dan menyusu boleh berbuka tak perlu qada"
Dalam riwayat sahih al-Daraqutni juga:
أنَّ امْرَأَتَهَ , سَأَلَتْهُ وَهِيَ حُبْلَى , فَقَالَ: أَفْطِرِي وَأَطْعِمِي عَنْ كُلِّ يَوْمٍ مِسْكِينًا وَلَا تَقْضِي
"Isteri Ibn ‘Umar yang hamil bertanya tentang puasanya, jawab Ibn 'Umar: "Kamu boleh buka dan beri makan setiap hari seorang miskin, tidak perlu qada (ganti puasa)".
5. Maka wanita yang menyusu atau hamil itu jika mampu berpuasa, maka wajib mereka berpuasa. Jika tidak mampu mereka boleh berbuka dan diganti pada hari yang lain. Jika dia sekadar mengganti puasa sahaja, maka itu juga memadai. Ini pendapat yang dipilih oleh sebahagian para ulama. Jika keadaan yang sukar seperti dia sentiasa mengandung dan menyusu saban tahun disebabkan kekerapan anak dan menggantikan puasa menjadi beban untuk dihimpunkan selepas itu, maka jika dia sekadar membayar fidyah sahaja, maka itu merupakan salah satu pendapat fekah yang boleh diamalkan. Islam itu bersifat mudah dan memberikan kelonggaran kepada mereka yang kesusahan.
6. Maka, Ibn ‘Abbas dan Ibn ‘Umar itu lebih memudahkan kaum wanita yang mengandung yang biasanya memakan masa selama 9 bulan kemudian kemudian diikuti dengan kelahiran dan menyusukan anak pula selama 2 tahun. Jika mereka diwajibkan qada tentu satu yang agak membebankan untuk menghimpunkan semua yang mereka tinggal dalam tempoh tersebut. Apatahlagi jika tahun berikutnya mereka mengandung lagi.

Wednesday, June 11, 2014

MENGENALI TUKANG SIHIR

Mengenali tukang sihir

1. Meminta sesuatu yang berupa bekas atau apa yang pernah dipakai oleh pesakit seperti kain, baju, sapu tangan dan sebagainya

2. Menyuruh pesakit membawa haiwan dengan sifat-sifat tertentu untuk disembelih tanpa menyebut nama Allah; Adakalanya melumurkan darahnya kebahagian tubuh yang sakit ataupun mencampakkan sembelihan ketempat yang sunyi.

3. Memberi azimat-azimat tertentu

4. Membaca jampi serampah ke atas azimat itu dan menggunakan bahasa yang tidak difahami

5. Menggunakan kain yang berbentuk empat segi di dalamnya ada beberapa huruf atau nombor

6. Menyuruh pesakit supaya tidak menyentuh air selama masa tertentu biasanya selama empat puluh hari.
 Tanda ini menunjukkan bahawa jin yang melayani tukang sihir tersebut beragama kristian

7. Menyuruh pesakit supaya menghindari orang atau memencilkan diri selama masa tertentu di bilik yang tidak di masui sinar mentari

8. Menyuruh pesakit untuk menanam sesuatu benda di dalam tanah

 9.  Memberi pesakit sesuatu untuk dibakar dan disuruh berasap denganya

10. Dia membaca sesuatu yang tidak difahami

11. Memberi tahu pesakit tentang namanya, negeri asalnya dan persoalan yang akan ditanyakan

12. Menulis huruf-huruf pada potongan kertas atau  pada tembikar bewarna putih dan menyuruh pesakit melarutkannya di dalam air dan meminumnya.

Dicatat oleh USTAZ SHARHAN SHAFIE

Wanita dan Dajjal:

Wanita dan Dajjal:
Rasulullah SAW juga memberitahu bahawa di akhir zaman nanti kaum wanita adalah yang paling ramai lari keluar mengikut dajjal.
Rasulullah SAW juga telah bersabda:
“ينزلُ الدجالُ في هذهِ السبخةِ بمرقناةٍ فيكونُ أكثرَ من يخرجُ إليه النساءُ، حتى إن الرجلَ ليرجعَ إلى حميمِه وإلى أمِّه وإلى ابنتِه وأختِه وعمَّتِه فيوثقُها رباطًا مخافةَ أن تخرجَ إليه”
Maksudnya: “Dajjal akan turun dari daerah dataran bergaram yang bernama Marriqanah. Yang paling ramai akan menjadi pengikutnya adalah kaum wanita, sehinggakan seorang lelaki akan bersegera pulang ke rumahnya untuk melihat/menjaga isteri, ibu, anak perempuan, saudara perempuan dan ibu saudaranya, kemudian diikatnya mereka kerana bimbang jika mereka keluar (lalu) bertemu Dajjal dan menjadi pengikutnya.
[HR. Ahmad (7/190) dan disahihkan oleh Ahmad Syakir].
Akhir zaman itu telah tiba sekarang. Ini sekali lagi bertepatan dengan fenomena manusia hari ini, di mana kaum wanita tidak lagi lekat diam di rumah, tetapi turut keluar dari rumah dengan pelbagai tugasan dan tujuan, samada yang harus atau tidak. Tetapi tidak dapat dinafikan keluarnya wanita dari rumah hari ini adalah lebih banyak menjurus kepada kesan negatif daripada yang positif.
Di tengah perpecahan dan keruntuhan dunia Islam sekarang ini, kita dapat menyaksikan betapa banyaknya kekuasaan yang hendak menarik, sekaligus mengeluarkan wanita dari agama dan Syariat Nabinya ke jalan yang amat jauh dari jalan yang diredhai Allah, diantaranya adalah lantangnya suara seruan kepada kebebasan wanita.
          Lalu keluarlah kaum wanita ini yang kononnya disokong oleh mereka yang berfikiran liberal, menuntut dan memperjuangkan sesuatu yang diluar fitrah dan tabie kejadian mereka. Para penyeru kebebasan wanita mutakhir ini, bertambah lantang dan berani, berusaha sedaya upaya menodai kehormatan dan kedudukan para wanita yang telah diangkat oleh Islam.
Semua ini pada umumnya adalah untuk menyeret wanita supaya mempunyai kedudukan yang setaraf dengan kaum lelaki, agar wanita meninggal serta menanggalkan hijab (pakaian dan tudung) muslimahnya, agar wanita bekerja di sektor-sektor pekerjaan yang dulunya khas untuk kaum lelaki, agar wanita berhias secantik mungkin, agar bertambah ayu, seksi, feminin dan menawan  ketika keluar dari rumahnya.
Mereka para pejuang kebebasan wanita ini mahu agar para wanita disamakan dengan kaumlelaki dalam segala bidang kehidupan, baik dalam pendidikan, pekerjaan, ekonomi mahupun dalam pemerintahan.
Sedangkan hak wanita sudah amat sempurna di dalam Islam. Islam memberikan kebebasan kepada wanita dalam bidang pendidikan, perkahwinan, pekerjaan, politik dan kemasyarakatan. Panduan umum al-Quran dan al-Sunnah terhadap kedudukan wanita adalah sama dengan lelaki dari segi kemanusiaannya, iaitu kedua-duanya mempunyai sama hak dan sama kewajipan dalam melaksanakan tugas-tugas agama sebagaimana firman Allah Taala:
Maksudnya: {Wahai manusia, bertakwalah kamu kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari satu jiwa.} [Surah al-Nisa’:1].
Hak-hak ini semua tidak terdapat dalam fahaman mereka yang menamakan dirinya “fahaman moden”, yang menyeru ‘Kebebasan Wanita’ itu. (Bahkan sebaliknya) mereka mengatakan bahawa Islam menghilangkan hak-hak wanita dan memenjarakannya di dalam rumah.


Apakah kerana Islam tidak menjadikan wanita sebagai “barangan murah” yang dapat dinikmati oleh setiap pandangan mata dan pemuas nafsu mereka yang rosak moral itu? Inikah kebebasan yang mereka perjuangkan? Dan inikah hak yang mereka tuntut?
Benarlah sabda Nabi Muhammad SAW:
ما تركت بعدي في الناسِ، فتنةً أضرُّ على الرجالِ من النساءِ
Tidaklah aku tinggalkan fitnah yang lebih berbahaya bagi kaum lelaki daripada fitnah kaum wanita.” [HR Muslim].
Maka dengan itu dajjal moden telah muncul untuk menguasai nafsu manusia. Manusia sudah mulai melangkah, bertindak sendiri merealisasikan segala tanda-tanda yang disebut oleh Rasulullah SAW itu.
Sekali lagi marilah kita sama-sama berdoa agar dijauhi dan diselamatkan dari fitnah dajjal ini, samada yang nyata iaitu Dajjal yang hakiki atau dalam apa-apa bentuk penjelmaannya sekalipun. Sesunguhnya ia adalah satu fitnah yang amat dahsyat!!! Amin.
Wallahu a’lam..... 


ANCAMAN DAJJAL MODEN & WOMEN’S LIB!

Dajjal adalah suatu fitnah yang cukup berat bagi orang yang akan bertemu dengannya, kerana itulah Rasulullah saw telah mengajar kepada kita agar sentiasa berdoa di akhir solat dengan doa ini:
Maksudnya:
Ya Allah, aku berlindung dengan-Mu daripada azab kubur, aku berlindung dengan-Mu daripada azab neraka jahanam, aku berlindung dengan-Mu daripada fitnah kehidupan dan kematian, dan berlindung dengan-Mu daripada fitnah Al-Masih al-Dajjal“.
          Rasulullah SAW telah berwasiat dalam hadisnya agar kita meminta perlindungan dengan Allah SWT daripada fitnah dajjal diakhir tahiyyat setiap kali menunaikan solat. Dajjal yang ditakuti itu akan muncul di akhir zaman, sebagai salah satu dari tanda-tanda qiamat yang besar. Pada waktu itu ramai manusia yang tidak beriman atau yang goyah imannya di atas dunia ini akan menjadi pengikutnya, mempercayai bahawa ia adalah tuhan.
Mestika J1 Siri 19; Alamat Qiamat; Dajjal, Ya’juj Ma’juj, Imam Mahdi & Akhir Umur Dunia


Ciri-ciri orang-orang yang sholatnya khusyu:

Ciri-ciri orang-orang yang sholatnya khusyu:

Ciri-ciri orang-orang yang sholatnya khusyu:
    1. Sangat menjaga waktunya, dia terpelihara dari perbuatan dan perkataan sia-sia apa lagi maksiat. Jadi orang-orang yang menyia-nyiakan waktu suka berbuat maksiat berarti sholatnya belum berkualitas atau belum khusyu.

2. Niatnya ikhlas, jarang kecewa terhadap pujian atau penghargaan, dipuji atau tidak dipuji, dicaci atau tidak dicaci sama saja.

3. Cinta kebersihan karena sebelum sholat, orang harus wudhu terlebih dahulu untuk mensucikan diri dari kotoran atau hadast.

    4. Tertib dan disiplin, karena sholat sudah diatur waktunya.

5. Selalu tenang dan tuma`ninah, tuma`ninah merupakan kombinasi antara tenang dan konsentrasi.

6. Tawadhu dan rendah hati, tawadhu merupakan akhlaknya
Rasulullah.

7. Tercegah dari perbuatan keji dan munkar, orang lain aman dari keburukan dan kejelekannya.

Orang yang sholatnya khusyu dan suka beramal baik tapi masih suka melakukan perbuatan yang dilarang oleh Allah, mudah-mudahan orang tersebut tidak hanya ritualnya saja yang dikerjakan tetapi ilmunya bertambah sehingga membangkitkan kesadaran dalam dirinya.

Jika kita merasa sholat kita sudah khusyu dan kita ingin menjaga dari keriaan yaitu dengan menambah pemahaman dan mengerti bacaan yang ada didalam sholat dan dalam beribadah jangan terhalang karena takut ria.

Inti dalam sholat yang khusyu yaitu akhlak menjadi baik, sebagaimana Rosulullah menerima perintah sholat dari Allah, agar menjadikan akhlak yang baik. Itulah ciri ibadah yang disukai Allah.

Saturday, October 5, 2013

AAM; Berakhirnya Dunia ini, No.90&91: "Hujan Turun tdk Lagi Membawa Rahm...

Lima Dosa Yang Mengundang Lima Bencana

Posted by  on 3 September 2013

Di penghujung usia dunia ini, pada saat akhir zaman, perkata mungkar dan maksiat yang disebut oleh Rasulullah SAW sebagai tanda dan alamat hampir Kiamat telah banyak dilakukan oleh manusia. Yang amat menakutkan, terdapat sebuah hadis yang menyatakan bahawa ada beberapa jenis maksiat yang akan disegerakan balasannya semasa di dunia ini lagi.
Ibnu Umar RA berkata: Rasulullah SAW datang kepada kami (pada suatu hari) kemudian Baginda bersabda:
“Wahai kaum Muhajirin, lima perkara kalau kamu telah diuji dengannya (jika kamu telah mengerjakannya), makatidak ada kebaikan lagi bagi kamu. Dan aku berlindung dengan Allah SWT, semoga kamu tidak melalui zaman itu.
Perkara-perkara itu ialah:
1. Tidak terjadi perzinaan pada suatu kaum sehingga mereka berani berterus-terangan melakukannya, melainkan akan berjangkit di kalangan mereka wabak penyakit menular (Ta’un) dengan cepat, dan mereka akan ditimpa penyakit-penyakit yang belum pernah menimpa umat-umat yang terdahulu.
2. Tidak mereka mengurangkan sukatan, ukuran dan timbangan, kecuali mereka akan diuji dengan kemarau panjang dan kesulitan mencari rezeki dan kezaliman daripada kalangan pemimpin mereka.
3. Dan tidak mereka menahan zakat harta benda, kecuali ditahan untuk mereka air hujan dari langit. Jikalau tidak ada binatang (yang juga hidup di atas permukaan bumi ini) tentunya mereka tidak akan diberi hujan oleh Allah SWT.
4. Dan tidaklah mereka menyalahi janji Allah dan Rasul-Nya, kecuali Allah akan menurunkan ke atas mereka musuh yang akan merampas sebahagian dari apa yang ada di tangan mereka.
5. Dan apabila pemimpin-pemimpin mereka tidak melaksanakan hukum Allah yang terkandung dalam Al-Qur’an dan mereka memilih ayat atau hukum yang mereka mahu, maka (di waktu itu) Allah akan menjadikan bencana di kalangan mereka sendiri.”
[HR Ibnu Majah, Sahih al-Jami’ as-Soghir: 7978].

Keterangan Hadis di atas menerangkan bahawa:
1. Wabak Taun yang berjangkit dan kolera serta penyakit kelamin yang begitu banyak merebak sekarang seperti Aids, HIV adalah disebabkan banyaknya terjadi perzinaan.
2. Sukar mencari rezeki dan kezaliman pimpinan adalah disebabkan daripada rakyat yang mengurangkan sukatan, ukuran dan timbangan. Lalu terjadilah inflasi, barang naik harga, harga minyak naik, pendapatan tidak mencukupi, banyak pengangguran dan lain-lain kemorosotan ekonomi.
3. Kemarau panjang disebabkan tidak mengeluarkan zakat. Sesetengah tempat, walaupun hujan turut banyak, tetapi air tidak mencukupi untuk kegunaan, iaitu hujan tidak lagi membawa berkat bahkan membawa bala bencana pula!
Lihat Video di: Hujan Banyak Air Tak Ada
4. Kuasa musuh mengambil sebahagian daripada apa-apa yang dimiliki kaum Muslimin (seperti hilangnya kuasa ekonomi daripada tangan kaum Muslimin) disebabkan mereka mengkhianati janji-janjinya kepada Allah SWT, tidak mentaati perintah Allah. Atau bagi negara Islam lain mungkin penjajah atau pelabur asing yang akan menguasai ekonomi dan hasil kekayaan negeri. Rakyat akan merempat di bumi sendiri!
5. Perang saudara yang berlaku dalam kalangan kaum Muslimin disebabkan mereka mengabaikan hukum-hukum Allah SWTdan tidak menjadikan Al-Qur’an sebagai undang-undang di dalam kehidupan. Akan berlaku perpecahan dan perbalahan, perperangan dan pembunuhan sesama sendiri berleluasa.

سنن ابن ماجه: عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ قَالَ: أَقْبَلَ عَلَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ:

((يَا مَعْشَرَ الْمُهَاجِرِينَ خَمْسٌ إِذَا ابْتُلِيتُمْ بِهِنَّ وَأَعُوذُ بِاللَّهِ أَنْ تُدْرِكُوهُنَّ؛

1- لَمْ تَظْهَرْ الْفَاحِشَةُ فِي قَوْمٍ قَطُّ حَتَّى يُعْلِنُوا بِهَا إِلَّا فَشَا فِيهِمْ الطَّاعُونُ وَالْأَوْجَاعُ الَّتِي لَمْ تَكُنْ مَضَتْ فِي أَسْلَافِهِمْ الَّذِينَ مَضَوْا.

2- وَلَمْ يَنْقُصُوا الْمِكْيَالَ وَالْمِيزَانَ إِلَّا أُخِذُوا بِالسِّنِينَ وَشِدَّةِ الْمَئُونَةِ وَجَوْرِ السُّلْطَانِ عَلَيْهِمْ.

3- وَلَمْ يَمْنَعُوا زَكَاةَ أَمْوَالِهِمْ إِلَّا مُنِعُوا الْقَطْرَ مِنْ السَّمَاءِ، وَلَوْلَا الْبَهَائِمُ لَمْ يُمْطَرُوا.

4- وَلَمْ يَنْقُضُوا عَهْدَ اللَّهِ وَعَهْدَ رَسُولِهِ إِلَّا سَلَّطَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ عَدُوًّا مِنْ غَيْرِهِمْ فَأَخَذُوا بَعْضَ مَا فِي أَيْدِيهِمْ.

5- وَمَا لَمْ تَحْكُمْ أَئِمَّتُهُمْ بِكِتَابِ اللَّهِ وَيَتَخَيَّرُوا مِمَّا أَنْزَلَ اللَّهُ إِلَّا جَعَلَ اللَّهُ بَأْسَهُمْ بَيْنَهُمْ))

Semoga Allah SWT selamatkan kita semua dari bala dan kemurkaan-Nya.

Abu Anas Madani, 3/9/2013 – 27 Syawal 1434H.

Mestika J1 Siri 19; Alamat Qiamat; Dajjal, Ya'juj Ma'juj, Imam Mahdi & A...

ANCAMAN DAJJAL MODEN & WOMEN’S LIB!

Posted by  on 3 September 2013
Dajjal adalah suatu fitnah yang cukup berat bagi orang yang akan bertemu dengannya, kerana itulah Rasulullah saw telah mengajar kepada kita agar sentiasa berdoa di akhir solat dengan doa ini:
Maksudnya:
Ya Allah, aku berlindung dengan-Mu daripada azab kubur, aku berlindung dengan-Mu daripada azab neraka jahanam, aku berlindung dengan-Mu daripada fitnah kehidupan dan kematian, dan berlindung dengan-Mu daripada fitnah Al-Masih al-Dajjal“.
          Rasulullah SAW telah berwasiat dalam hadisnya agar kita meminta perlindungan dengan Allah SWT daripada fitnah dajjal diakhir tahiyyat setiap kali menunaikan solat. Dajjal yang ditakuti itu akan muncul di akhir zaman, sebagai salah satu dari tanda-tanda qiamat yang besar. Pada waktu itu ramai manusia yang tidak beriman atau yang goyah imannya di atas dunia ini akan menjadi pengikutnya, mempercayai bahawa ia adalah tuhan.
Mestika J1 Siri 19; Alamat Qiamat; Dajjal, Ya’juj Ma’juj, Imam Mahdi & Akhir Umur Dunia
     Menurut Rasulullah SAW juga, dajjal yang buta sebelah matanya tetapi mempunyai kuasa-kuasa misteri yang diberikan oleh Allah SWT kepadanya. Dia boleh mendengar dengan telinganya apa yang diucapkan di hujung dunia sana, boleh melihat dengan mata sebelahnya itu apa yang berlaku dalam dunia ini, dia boleh berjalan mengelilingi dunia dalam masa beberapa hari sahaja, boleh mengeluarkan khazanah-khazanah seperti emas dan perak dari perut bumi dengan mudahnya, boleh menurunkan hujan dan menumbuhkan tanam-tanaman, boleh memati dan menghidupkan kembali orang yang telah mati. [Lihat: Nihayah
Al-Aalam 249]
     Dari Hudzaifah r.a., Rasulullah SAW bersabda:
Dajjal ialah orang yang buta sebelah matanya iaitu sebelah kiri, lebat (panjang) rambutnya yang kerinting serta dia membawa Syurga dan Neraka. Nerakanya itu merupakan Syurga dan Syurganya pula ialah Neraka bagi orang Islam dan beriman kepada Allah SWT.”  [Hadis riwayat Muslim].
Maka sesiapa yang lemah imannya akan percaya bahawa dia adalah tuhan yang sebenarnya dan akan sujud patuh mengikut perintahnya, tapi sebaliknya orang yang kuat imannya akan dapat membaca tulisan di dahinya: ‘kaf, fa, ra’, iaitu kafir, dan mereka yakin bahawa ianya hanyalah satu penipuan untuk menguji keimanan manusia.
Daripada Qatadah, beliau mendengar daripada Anas bin Malik bahawa Rasulullah SAW telah bersabda: “Tidak ada seorang nabi kecuali ia telah memperingatkan kaumnya terhadap sang pendusta yang buta sebelah mata. Ketahuilah bahawa dajjal itu buta sebelah matanya sedangkan Tuhanmu tidak buta sebelah mata dan di antara kedua matanya tertulis “kaaf”, “faa”, “raa”. [Hadis riwayat Muslim].
Walaupun dajjal sebenar dengan segala macam fitnah yang akan dibawanya akan muncul di akhir zaman sewaktu hampirnya qiamat, namun Rasulullah SAW telah mengajar umatnya agar beramal dengan doa tersebut, mungkin kerana sebelum itu akan ada fitnah-fitnah –semoga Allah SWT menyelamatkan kita semua darinya- yang serupa dengannya walaupun lebih kecil berbanding dengan fitnah dajjal yang hakiki.
Dajjal Moden:
Kali ini kita akan melihat perspektif tentang dajjal moden ini melalui hasil perbincangan di antara Syeikh Ibnu Bulaihid – yang merupakan tumpuan orang-orang Badwi di Najdi dan penduduk sekitarnya yang mahu belajar dan mendengar ilmu darinya – dengan seorang penulis yang terkenal di Arab Saudi iaitu Muhammad Asad yang berasal dari Austria. 
Beliau datang ke Saudi pada zaman pemerintahan Al-Malik Abdul Aziz dan merupakan seorang sahabat Almarhum yang sangat dihormatinya. Beliau mencatatkan perbincangan tersebut dalam bukunya yang masyhur: ‘The Road to Mecca (Makkah)’.
Buku ini juga telah diterjemahkan ke bahasa Arab dengan judul:‘At-Torik Ila al-Islam’. Dengan pengalamannya sebagai orang barat (Western man) yang non-Muslim sebelum ini, beliau mengibaratkan huraian dajjal yang disebutkan di dalam hadis itu sebagai satu huraian yang menepati tentang kemajuan teknologi dunia moden hari ini (sebelum datangnya dajjal akhir zaman yang hakiki). Iaitu tentang kehidupan manusia hari ini yang telah luput maruahnya, hilang segala pertimbangan dan kaitan dengan asal-usul kejadiannya.
Katanya: “Tidakkah huraian dajjal di dalam hadis Rasulullah di atas tadi begitu jelas
sebagai satu penghuraian yang tepat tentang kemajuan teknologi moden hari ini?
1) Ianya bermata satu, iaitu hanya melihat kepada satu aspek kehidupan sahaja iaitu kemajuan / perkembangan material (material progress), ia tidak peduli akan perkembangan rohani (spiritual side).
2) Dengan bantuan mesin / alat-alat ciptaan yang canggih membolehkan manusia melihat dan mendengar tanpa batasan melebihi kemampuan semula jadinya, juga boleh melalui jarak atau sempadan yang tidak terhad dalam masa yang singkat. Ini terbukti dengan ciptaan telefon, kapal terbang, jet, satelit, internet dan sebagainya.
3) Kemajuan sains juga boleh mengadakan hujan tiruan, menumbuhkan tanaman dengan cepat dan mengeluarkan khazanah-khazanah yang tidak disangka dari perut bumi seperti emas, perak, bijih dan minyak dari dasar laut tanpa apa-apa kesukaran.
4) Teknologi perubatan pula boleh menyembuhkan orang sakit tenat yang seolah-olah telah mati, manakala peperangan dengan alat-alat canggih yang dicipta melalui sains moden (contohnya bom nuklear) boleh memusnahkan banyak nyawa manusia dalam masa yang singkat sahaja.
        Kemajuan dan kecanggihan material ini sungguh memukau dan berkuasa sehinggakan orang yang tidak beriman atau lemah imannya akan mempercayai itulah tuhan dalam bentuknya. Inilah yang dikatakan bertuhankan wang, emas dan kehidupan semata-mata untuk mengejar kepuasan nafsu kebendaan dan material. Bukannya menyedari dan menginsafi bahawa kemajuan tamadun (civilization) manusia serta perkembangan teknologi dan sains itu adalah anugerah dari tuhan, tetapi sebaliknya semakin ramai manusia di dalam kejahilan mereka mula memikirkan bahawa itulah akhir halatujunya dan sesuatu yang wajar diburu dan dipuja.
Tetapi mereka yang sedar akan Penciptanya, tujuan kewujudannya di dunia ini, akan bertambah kuat imannya dan sesungguhnya jika mengikut dajjal bererti menafikan Allah SWT, Tuhan Yang Maha Berkuasa. Atas kesedaran erti dajjal inilah juga antara sebab-sebab yang membawanya ramai manusia kepada Islam, Ad-Din yang haqiqi. Bagi yang celik, kehidupan kafir Barat telah menjadi satu dunia kehidupan dajjal yang memukau dan menyesatkan.
Kemajuan ini tidak mampu lagi mengadakan satu keseimbangan di antara keperluan fizikal manusia, kehidupan masyarakat dan keinginan rohaninya. Etika keagamaan tiada lansung kepentingan di dalam kamus hidupnya, bahkan  hanya dikira sebagai satu muzik latar yang menenangkan, boleh untuk menemani tetapi tidak sesekali untuk mempengaruhi kehidupan ‘sebenar’ mereka.
Kehilangan segala pedoman agama, mereka tidak mendapat faedah dari segi moral akan cahaya ilmu pengetahuan yang dicurahkan oleh kemajuan sainsnya yang agung itu.
Ayat al-Quran ini sangat sesuai sekali bagi menghurai keadaan mereka itu:

قال الله تعالى: {مثلهم كمثل الذي استوقد نارا فلما أضاءت ما حوله ذهب الله بنورهم وتركهم في ظلمات لا يبصرون. صم بكم عمي فهم لا يرجعون }. ( البقرة : 17-18)

Ertinya: {Perumpamaan mereka adalah seperti orang yang menyalakan api, maka setelah api itu menerangi sekelilingnya, Allah hilangkan cahaya (yang menerangi) mereka dan membiarkan mereka di dalam kegelapan, tidak dapat melihat. Mereka tuli, bisu, buta, maka tidaklah mereka akan kembali (ke jalan yang benar).} [Al-Baqarah: 17-18].
Kerana buta dalam keangkuhan inilah yang meyakinkan mereka bahawa hanya kemajuan tamadun merekalah yang akan membawa cahaya dan kebahagian dalam kehidupan di dunia ini. Mereka menyebarkan slogan materialistik Western way of life”, satu kepercayaan bahawa semua masalah kehidupan manusia di dunia ini boleh diselesaikan dikilang-kilang, makmal-makmal dan dengan perangkaan statistik semata-mata.
Wanita dan Dajjal:
Rasulullah SAW juga memberitahu bahawa di akhir zaman nanti kaum wanita adalah yang paling ramai lari keluar mengikut dajjal.
Rasulullah SAW juga telah bersabda:
“ينزلُ الدجالُ في هذهِ السبخةِ بمرقناةٍ فيكونُ أكثرَ من يخرجُ إليه النساءُ، حتى إن الرجلَ ليرجعَ إلى حميمِه وإلى أمِّه وإلى ابنتِه وأختِه وعمَّتِه فيوثقُها رباطًا مخافةَ أن تخرجَ إليه”
Maksudnya: “Dajjal akan turun dari daerah dataran bergaram yang bernama Marriqanah. Yang paling ramai akan menjadi pengikutnya adalah kaum wanita, sehinggakan seorang lelaki akan bersegera pulang ke rumahnya untuk melihat/menjaga isteri, ibu, anak perempuan, saudara perempuan dan ibu saudaranya, kemudian diikatnya mereka kerana bimbang jika mereka keluar (lalu) bertemu Dajjal dan menjadi pengikutnya.
[HR. Ahmad (7/190) dan disahihkan oleh Ahmad Syakir].
Akhir zaman itu telah tiba sekarang. Ini sekali lagi bertepatan dengan fenomena manusia hari ini, di mana kaum wanita tidak lagi lekat diam di rumah, tetapi turut keluar dari rumah dengan pelbagai tugasan dan tujuan, samada yang harus atau tidak. Tetapi tidak dapat dinafikan keluarnya wanita dari rumah hari ini adalah lebih banyak menjurus kepada kesan negatif daripada yang positif.
Di tengah perpecahan dan keruntuhan dunia Islam sekarang ini, kita dapat menyaksikan betapa banyaknya kekuasaan yang hendak menarik, sekaligus mengeluarkan wanita dari agama dan Syariat Nabinya ke jalan yang amat jauh dari jalan yang diredhai Allah, diantaranya adalah lantangnya suara seruan kepada kebebasan wanita.
          Lalu keluarlah kaum wanita ini yang kononnya disokong oleh mereka yang berfikiran liberal, menuntut dan memperjuangkan sesuatu yang diluar fitrah dan tabie kejadian mereka. Para penyeru kebebasan wanita mutakhir ini, bertambah lantang dan berani, berusaha sedaya upaya menodai kehormatan dan kedudukan para wanita yang telah diangkat oleh Islam.
Semua ini pada umumnya adalah untuk menyeret wanita supaya mempunyai kedudukan yang setaraf dengan kaum lelaki, agar wanita meninggal serta menanggalkan hijab (pakaian dan tudung) muslimahnya, agar wanita bekerja di sektor-sektor pekerjaan yang dulunya khas untuk kaum lelaki, agar wanita berhias secantik mungkin, agar bertambah ayu, seksi, feminin dan menawan  ketika keluar dari rumahnya.
Mereka para pejuang kebebasan wanita ini mahu agar para wanita disamakan dengan kaumlelaki dalam segala bidang kehidupan, baik dalam pendidikan, pekerjaan, ekonomi mahupun dalam pemerintahan.
Sedangkan hak wanita sudah amat sempurna di dalam Islam. Islam memberikan kebebasan kepada wanita dalam bidang pendidikan, perkahwinan, pekerjaan, politik dan kemasyarakatan. Panduan umum al-Quran dan al-Sunnah terhadap kedudukan wanita adalah sama dengan lelaki dari segi kemanusiaannya, iaitu kedua-duanya mempunyai sama hak dan sama kewajipan dalam melaksanakan tugas-tugas agama sebagaimana firman Allah Taala:
Maksudnya: {Wahai manusia, bertakwalah kamu kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari satu jiwa.} [Surah al-Nisa’:1].
Hak-hak ini semua tidak terdapat dalam fahaman mereka yang menamakan dirinya “fahaman moden”, yang menyeru ‘Kebebasan Wanita’ itu. (Bahkan sebaliknya) mereka mengatakan bahawa Islam menghilangkan hak-hak wanita dan memenjarakannya di dalam rumah.

Apakah kerana Islam tidak menjadikan wanita sebagai “barangan murah” yang dapat dinikmati oleh setiap pandangan mata dan pemuas nafsu mereka yang rosak moral itu? Inikah kebebasan yang mereka perjuangkan? Dan inikah hak yang mereka tuntut?
Benarlah sabda Nabi Muhammad SAW:
ما تركت بعدي في الناسِ، فتنةً أضرُّ على الرجالِ من النساءِ
Tidaklah aku tinggalkan fitnah yang lebih berbahaya bagi kaum lelaki daripada fitnah kaum wanita.” [HR Muslim].
Maka dengan itu dajjal moden telah muncul untuk menguasai nafsu manusia. Manusia sudah mulai melangkah, bertindak sendiri merealisasikan segala tanda-tanda yang disebut oleh Rasulullah SAW itu.
Sekali lagi marilah kita sama-sama berdoa agar dijauhi dan diselamatkan dari fitnah dajjal ini, samada yang nyata iaitu Dajjal yang hakiki atau dalam apa-apa bentuk penjelmaannya sekalipun. Sesunguhnya ia adalah satu fitnah yang amat dahsyat!!! Amin.
Wallahu a’lam. 
Oleh: Ummu Anas Madani, Madinah. 9.99.