Welcom to BaONG Blog
JellyMuffin.com - The place for profile layouts, flash generators, glitter graphics, backgrounds and codes

Sunday, May 27, 2012

TIADA MANUSIA YANG SEMPURNA IMANNYA

Artikel Dr. Yusuf Qardhawi

 

Pertanyaan:
 
Apakah ada manusia yang sempurna?
 
Jawab:
 
Tiada manusia yang sempurna, karena setiap  orang  mempunyai
kelemahan. Seseorang yang beriman, tentu mempunyai kesalahan
dan memiliki sifat buruk yang sukar dihilangkan. Tiada orang
Mukmin yang murni atau sempurna.
 
Pandangan orang jarang ditujukan pada hal-hal yang berada di
pertengahan antara dua hal yang berdekatan.  Bagi  seseorang
sesuatu  itu  warnanya  putih saja, sebagian yang lain hitam
saja, mereka lupa adanya warna yang lain,  tidak  putih  dan
tidak pula hitam.
 
Nabi  saw.  pernah  bersabda  kepada  Abu  Dzar r.a., beliau
bersabda,  "Engkau  seorang  yang  masih  ada  padamu  sifat
Jahiliyah."  Abu  Dzar  adalah  seorang  sahabat yang utama,
termasuk dari orang-orang pertama yang beriman dan berjihad,
akan tetapi masih ada kekurangannya.
 
Juga didalam Shahih Bukhari diterangkan oleh Nabi saw.:
 
"Barangsiapa yang meninggal bukan karena melakukan jihad dan
tidak dirasakannya (tidak ingin) dalam jiwanya  maksud  akan
berjihad, maka dia mati dalam keadaan sedikit ada nifaknya."
 
Abdullah  bin  Mubarak  meriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib
r.a. yang mengatakan sebagai berikut:
 
"Seorang Mukmin itu permulaannya tampak sedikit putih  dalam
kalbunya;   setiap   kali  iman  bertambah,  maka  bertambah
putihlah  kalbu  itu.  Begitu  seterusnya,  hingga  kalbunya
menjadi putih semua.
 
Begitu juga kemunafikan, pertama ada tanda-tanda hitam dalam
kalbunya; dan setiap melakukan kemunafikan,  maka  bertambah
pula hitamnya, sampai hatinya menjadi hitam semua.
 
Demi  Allah,  jika  dibuka  hati  seorang Mukmin, maka tentu
tampak putih sekali; dan jika dibuka hati orang kafir,  maka
tentu tampak hitam sekali."
 
Ini berarti seseorang tidak dapat sekaligus menjadi sempurna
imannya atau menjadi munafik, tetapi kedua hal itu bertahap,
yakni sedikit demi sedikit.
 

HUBUNGAN ''BERSAMA'' SUAMI-ISTRI

Artikel Dr. Yusuf Qardhawi

 

Pertanyaan:
 
Sebagaimana diketahui, bahwa seorang Muslim tidak boleh malu
untuk  menanyakan  apa  saja  yang  berkaitan  dengan hukum
agama, baik yang bersifat umum maupun pribadi.
 
Oleh karena itu, izinkanlah kami mengajukan suatu pertanyaan
mengenai    hubungan   seksual   antara   suami-istri   yang
berdasarkan  agama,  yaitu  jika  si  istri  menolak  ajakan
suaminya  dengan alasan yang dianggap tidak tepat atau tidak
berdasar. Apakah  ada  penetapan  dan  batas-batas  tertentu
mengenai  hal  ini,  serta apakah ada petunjuk-petunjuk yang
berdasarkan syariat Islam  untuMk  mengatur  hubungan  kedua
pasangan, terutama dalam masalah seksual tersebut?
 
Jawab:
 
Benar,  kita  tidak  boleh bersikap malu dalam memahami ilmu
agama, untuk  menanyakan  sesuatu  hal.  Aisyah  r.a.  telah
memuji  wanita  Anshar,  bahwa  mereka tidak dihalangi sifat
malu   untuk   menanyakan   ilmu   agama.   Walaupun   dalam
masalah-masalah  yang berkaitan dengan haid, nifas, janabat,
dan lain-lainnya, di hadapan umum  ketika  di  masjid,  yang
biasanya  dihadiri  oleh orang banyak dan di saat para ulama
mengajarkan  masalah-masalah  wudhu,  najasah   (macam-macam
najis), mandi janabat, dan sebagainya.
 
Hal serupa juga terjadi di tempat-tempat pengajian Al-Qur'an
dan hadis yang ada hubungannya dengan masalah tersebut, yang
bagi  para  ulama  tidak ada jalan lain, kecuali dengan cara
menerangkan secara  jelas  mengenai  hukum-hukum  Allah  dan
Sunnah   Nabi   saw.   dengan  cara  yang  tidak  mengurangi
kehormatan  agama,  kehebatan  masjid  dan  kewibawaan  para
ulama.
 
Hal  itu  sesuai  dengan  apa  yang  dihimbau oleh ahli-ahli
pendidikan pada saat ini. Yakni, masalah hubungan ini,  agar
diungkapkan secara jelas kepada para pelajar, tanpa ditutupi
atau dibesar-besarkan, agar dapat dipahami oleh mereka.
 
Sebenarnya,  masalah   hubungan   antara   suami-istri   itu
pengaruhnya amat besar bagi kehidupan mereka, maka hendaknya
memperhatikan dan menghindari hal-hal yang dapat menyebabkan
kesalahan   dan  kerusakan  terhadap  kelangsungan  hubungan
suami-istri. Kesalahan yang  bertumpuk  dapat  mengakibatkan
kehancuran bagi kehidupan keluarganya.
 
Agama  Islam  dengan  nyata tidak mengabaikan segi-segi dari
kehidupan manusia  dan  kehidupan  berkeluarga,  yang  telah
diterangkan  tentang  perintah  dan larangannya. Semua telah
tercantum  dalam  ajaran-ajaran  Islam,  misalnya   mengenai
akhlak,  tabiat,  suluk,  dan sebagainya. Tidak ada satu hal
pun yang diabaikan (dilalaikan).
 
1. Islam telah menetapkan pengakuan bagi fitrah manusia dan
   dorongannya akan seksual, serta ditentangnya tindakan
   ekstrim yang condong menganggap hal itu kotor. Oleh karena
   itu, Islam melarang bagi orang yang hendak menghilangkan dan
   memfungsikannya dengan cara menentang orang yang berkehendak
   untuk selamanya menjadi bujang dan meninggalkan sunnah Nabi
   saw, yaitu menikah.
   
   Nabi saw. telah menyatakan sebagai berikut:
   
   "Aku lebih mengenal Allah daripada kamu dan aku lebih
   khusyu, kepada Allah daripada kamu, tetapi aku bangun malam,
   tidur, berpuasa, tidak berpuasa dan menikahi wanita. Maka,
   barangsiapa yang tidak senang (mengakui) sunnahku, maka dia
   bukan termasuk golonganku."
   
2. Islam telah menerangkan atas hal-hal kedua pasangan
   setelah pernikahan, mengenai hubungannya dengan cara
   menerima dorongan akan masalah-masalah seksual, bahkan
   mengerjakannya dianggap suatu ibadat. Sebagaimana keterangan
   Nabi saw.:
   
   "Di kemaluan kamu ada sedekah (pahala)." Para sahabat
   bertanya, "Wahai Rasulullah, apakah ketika kami bersetubuh
   dengan istri akan mendapat pahala?" Rasulullah saw.
   menjawab, "Ya. Andaikata bersetubuh pada tempat yang
   dilarang (diharamkan) itu berdosa. Begitu juga dilakuknn
   pada tempat yang halal, pasti mendapat pahala. Kamu hanya
   menghitung hal-hal yang buruk saja, akan tetapi tidak
   menghitung hal-hal yang baik."
 
Berdasarkan tabiat dan fitrah, biasanya pihak laki-laki yang
lebih  agresif,  tidak  memiliki  kesabaran dan kurang dapat
menahan diri. Sebaliknya  wanita  itu  bersikap  pemalu  dan
dapat menahan diri.
 
Karenanya   diharuskan  bagi  wanita  menerima  dan  menaati
panggilan suami. Sebagaimana dijelaskan dalam hadis:
 
"Jika si istri dipanggil oleh suaminya  karena  perlu,  maka
supaya  segera  datang,  walaupun  dia  sedang masak." (H.r.
Tirmidzi, dan dikatakan hadis Hasan).
 
Dianjurkan oleh Nabi saw.  supaya  si  istri  jangan  sampai
menolak   kehendak   suaminya   tanpa   alasan,  yang  dapat
menimbulkan  kemarahan  atau  menyebabkannya  menyimpang  ke
jalan yang tidak baik, atau membuatnya gelisah dan tegang.
 
Nabi saw. telah bersabda:
 
"Jika  suami  mengajak  tidur  si  istri  lalu  dia menolak,
kemudian  suaminya  marah  kepadanya,  maka  malaikat   akan
melaknat dia sampai pagi." (H.r. Muttafaq Alaih).
 
Keadaan  yang  demikian  itu  jika  dilakukan tanpa uzur dan
alasan yang masuk akal, misalnya sakit, letih,  berhalangan,
atau hal-hal yang layak. Bagi suami, supaya menjaga hal itu,
menerima alasan tersebut, dan sadar bahwa Allah swt.  adalah
Tuhan  bagi  hamba-hambaNya  Yang  Maha  Pemberi  Rezeki dan
Hidayat,  dengan  menerima  uzur  hambaNya.  Dan   hendaknya
hambaNya juga menerima uzur tersebut.
 
Selanjutnya,  Islam  telah  melarang bagi seorang istri yang
berpuasa sunnah tanpa seizin suaminya, karena baginya  lebih
diutamakan  untuk memelihara haknya daripada mendapat pahala
puasa.
 
Nabi saw. bersabda:
 
"Dilarang bagi si istri (puasa  sunnah)  sedangkan  suaminya
ada, kecuali dengan izinnya." (H.r. Muttafaq Alaih).
 
Disamping  dipeliharanya  hak  kaum  laki-laki (suami) dalam
Islam, tidak lupa hak wanita (istri) juga  harus  dipelihara
dalam  segala  hal.  Nabi  saw.  menyatakan kepada laki-laki
(suami) yang terus-menerus puasa dan bangun malam.
 
Beliau bersabda:
 
"Sesungguhnya bagi  jasadmu  ada  hak  dan  hagi  keluargamu
(istrimu) ada hak."
 
Abu  Hamid  Al-Ghazali,  ahli fiqih dan tasawuf? dalam kitab
Ihya' mengenai adab bersetubuh, beliau berkata:
 
"Disunnahkan memulainya dengan membaca Bismillahirrahmaanir-
rahiim dan berdoa, sebagaimana Nabi saw. mengatakan:
 
"Ya Allah,jauhkanlah aku dan setan dan jauhkanlah setan dari
apa yang Engkau berikan kepadaku'."
 
Rasulullah  saw.  melanjutkan sabdanya, "Jika mendapat anak,
maka tidak akan diganggu oleh setan."
 
Al-Ghazali berkata, "Dalam  suasana  ini  (akan  bersetubuh)
hendaknya didahului dengan kata-kata manis, bermesra-mesraan
dan sebagainya; dan  menutup  diri  mereka  dengan  selimut,
jangan  telanjang  menyerupai  binatang.  Sang  suami  harus
memelihara suasana dan  menyesuaikan  diri,  sehingga  kedua
pasangan sama-sama dapat menikmati dan merasa puas."
 
Berkata  Al-Imam  Abu  Abdullah  Ibnul Qayyim dalam kitabnya
Zaadul Ma'aad Fie Haadii Khainrul  'Ibaad,  mengenai  sunnah
Nabi   saw.   dan   keterangannya   dalam  cara  bersetubuh.
Selanjutnya Ibnul Qayyim berkata:
 
Tujuan utama dari jimak (bersetubuh) itu ialah:
 
1. Dipeliharanya nasab (keturunan), sehingga mencapai jumlah
   yang ditetapkan menurut takdir Allah.
   
2. Mengeluarkan air yang dapat mengganggu kesehatan badan
   jika ditahan terus.
   
3. Mencapai maksud dan merasakan kenikmatan, sebagaimana
   kelak di surga.
 
Ditambah  lagi  mengenai  manfaatnya,   yaitu:   Menundukkan
pandangan,  menahan  nafsu,  menguatkan  jiwa dan agar tidak
berbuat  serong  bagi  kedua  pasangan.  Nabi   saw.   telah
menyatakan:
 
"Yang  aku  cintai  di  antara  duniamu  adalah  wanita  dan
wewangian."
 
Selanjutnya Nabi saw. bersabda:
 
"Wahai para  pemuda!  Barangsiapa  yang  mampu  melaksanakan
pernikahan,  maka  hendaknya  menikah.  Sesungguhnya hal itu
menundukkan penglihatan dan memelihara kemaluan."
 
Kemudian   Ibnul   Qayyim   berkata,   "Sebaiknya   sebelum
bersetubuh  hendaknya  diajak bersenda-gurau dan menciumnya,
sebagaimana Rasulullah saw. melakukannya."
 
Ini semua menunjukkan bahwa para ulama dalam  usaha  mencari
jalan  baik  tidak  bersifat konservatif, bahkan tidak kalah
kemajuannya daripada penemuan-penemuan  atau  pendapat  masa
kini.
 
Yang  dapat  disimpulkan  di  sini adalah bahwa sesungguhnya
Islam  telah  mengenal  hubungan  seksual   diantara   kedua
pasangan,   suami   istri,   yang  telah  diterangkan  dalam
Al-Qur'anul  Karim   pada   Surat   Al-Baqarah,   yang   ada
hubungannya dengan peraturan keluarga.
 
Firman Allah swt.:
 
"Dihalalkan  bagi  kamu  pada  malam  hari  puasa, bercampur
dengan istri-istri kamu; mereka itu adalah  pakaian  bagimu,
dan  kamu  pun  adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui
bahwasanya kamu tidak dapat  menahan  nafsumu,  karena  itu,
Allah  mengampuni  kamu  dan  memberi  maaf  kepadamu.  Maka
sekarang campurilah  mereka  dan  ikutilah  apa  yang  telah
ditetapkan  Allah  untukmu,  dan makan minumlah kamu, hingga
jelas bagimu benang putih dari benang  hitam,  yaitu  fajar.
Kemudian,  sempurnakanlah  puasa  itu sampai malam, (tetapi)
janganlah kamu campuri mereka itu, sedangkan kamu beriktikaf
dalam  masjid.  Itulah  larangan  Allah, maka janganlah kamu
mendekatinya ..." (Q.s. Al-Baqarah: 187).
 
Tidak ada kata yang lebih indah, serta lebih benar, mengenai
hubungan  antara suami-istri, kecuali yang telah disebutkan,
yaitu:
 
"Mereka itu adalah  pakaian  bagimu,  dan  kamu  pun  adalah
pakaian bagi mereka." (Q.s. Al-Baqarah 187).
 
Pada ayat lain juga diterangkan, yaitu:
 
"Mereka bertanya kepadamu tentang haid, katakanlah: Haid itu
adalah  suatu  kotoran.  Oleh  sebab  itu,  hendaklah   kamu
menjauhkan  diri  dari  wanita  di waktu haid; dan janganlah
kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci.  Apabila  mereka
telah  suci  maka  campurilah  mereka  itu  di  tempat  yang
diperintahkan Allah kepadamu.  Sesungguhnya  Allah  menyukai
orang-orang  yang  bertobat  dan  menyukai  orang-orang yang
menyucikan diri.
 
Istri-istrimu adalah (seperti) tanah  tempat  kamu  bercocok
tanam,  maka  datangilah  tanah  tempat bercocok tanammu itu
dengan cara bagaimana saja kamu kehendaki.  Dan  kerjakanlah
(amal  yang  baik)  untuk  dirimu,  dan takwalah kamu kepada
Allah dan ketahuilah bahwa kamu kelak akan  menemuiNya.  Dan
berilah  kabar gembira bagi orang-orang yang beriman." (Q.s.
Al-Baqarah: 222-223).
 
Maka, semua hadis yang  menafsirkan  bahwa  dijauhinya  yang
disebut  pada ayat di atas, hanya masalah persetubuhan saja.
Selain itu, apa saja yang dapat dilakukan, tidak dilarang.
 
Pada ayat di atas disebutkan:
 
"Maka, datangilah tanah tempat bercocok tanammu dengan  cara
bagaimanapun kamu kehendaki." (Q.s. Al-Baqarah: 223).
 
Tidak  ada suatu perhatian yang melebihi daripada disebutnya
masalah   dan   undang-undang   atau   peraturannya    dalam
Al-Qur'anul  Karim  secara langsung, sebagaimana diterangkan
di atas.

APAKAH NABI SAW MAKHLUK ALLAH YANG PERTAMA?

Artikel Dr. Yusuf Qardhawi

Pertanyaan:

Benarkah bahwa Nabi Muhammad saw. makhluk Allah yang pertama
dan bahwa beliau diciptakan dari cahaya?

Kami  mengharapkan  pendapat  yang disertai dalil-dalil dari
Al-Qur'an dan As-Sunnah.

Jawab:

Telah diketahui  bahwa  hadis-hadis  yang  menyatakan  bahwa
makhluk  pertama  adalah  itu  atau  ini ... dan seterusnya,
tidak satu pun yang shahih, sebagaimana ditetapkan oleh para
ulama Sunnah.

Oleh  karena itu, kami dapatkan sebagian bertentangan dengan
sebagian  lainnya.  Sebuah  hadis  mengatakan,  "Bahwa  yang
pertama kali diciptakan oleh Allah adalah pena."

Hadis  lainnya  mengatakan,  "Yang  pertama  kali diciptakan
Allah adalah akal." Telah tersiar di antara orang awam  dari
kisah-kisah   maulid   yang   sering   dibaca   bahwa  Allah
menggenggam  cahaya-Nya,  lalu  berfirman,  "Jadilah  engkau
Muhammad."   Maka   ia  adalah  makhluk  yang  pertama  kali
diciptakan Allah, dan dari situ diciptakan langit, bumi  dan
seterusnya.

Dari itu tersiar kalimat:

"Shalawat   dan   salam  bagimu  wahai  makhluk  Allah  yang
pertama," hingga kalimat itu  dikaitkan  dengan  adzan  yang
disyariatkan, seakan-akan bagian darinya.

Perkataan itu tidak sah riwayatnya dan tidak dibenarkan oleh
akal,  tidak  akan   mengangkat  agama,   dan   tidak   pula
bermanfaat bagi perkembangan dari peradaban dunia.

Keawalan  Nabi  Muhammad  saw.  sebagai  makhluk Allah tidak
terbukti,  seandainya  terbukti  tidaklah  berpengaruh  pada
keutamaan  dan  kedudukannya  di  sisi  Allah. Tatkala Allah
Ta'ala  memujinya  dalam  Kitab-Nya,  maka  Allah  memujinya
dengan alasan keutamaaan yang sebenarnya. Allah berfirman:

"Dan   sesungguhnya  kamu  benar-benar  orang  yang  berbudi
pekerti agung" (Q.s. Al-Qalam: 4).

Hal itu yang terbukti dan ditetapkan secara mutawatir.  Nabi
kita  Muhammad  saw.  adalah Muhammad bin Abdullah bin Abdul
Muththalib Al-Hasyimi Al-Quraisy  yang  dilahirkan  lantaran
kedua orang tuanya, Abdullah bin Abdul Muththalib dan Aminah
binti Wahb, di Mekkah, pada tahun Gajah.  Beliau  dilahirkan
scbagaimana  halnya manusia biasa dan dibesarkan sebagaimana
manusia dibesarkan. Beliau diutus sebagaimana para Nabi  dan
Rasul  sebelumnya  diutus,  dan  bukan Rasul yang pertama di
antara Rasul-rasul.

Beliau  hidup   dalam   waktu   terbatas,   kemudian   Allah
memanggilnya kembali kepada-Nya:

"Sesungguhnya  kamu  akan  mati dan sesungguhnya mereka akan
mati (pula)." (Q.s. Az-Zumar: 30).

Beliau akan ditanya pada hari Kiamat, sebagaimana para Rasul
ditanya:

"(Ingatlah)  hari  di  waktu  Allah mengumpulkan para Rasul,
lalu Allah bertanya (kepada  mereka),  'Apa  jawaban  kaummu
terhadap   (seruan)mu?'  Para  Rasul  menjawab,  'Tidak  ada
pengetahuan kami (tentang itu) sesungguhnya Engkau-lah  yang
mengetahui perkara yang gaib'." (Q.s. Al-Maidah: 109).

Al-Qur'an  telah  menegaskan  kemanusiaan  Muhammad  saw. di
berbagai tempat dan Allah memerintahkan menyampaikan hal itu
kepada orang-orang dalam berbagai surat, antara lain:

"Katakanlah,  'Sesungguhnya  aku  ini  hanya seorang manusia
seperti kamu, yang diwahyukann kepadaku, Bahwa  sesungguhnya
Tuhan  kamu itu adalah Tuhan yang Esa ...'." (Q.s. Al-Kahfi:
110).

"Katakanlah, 'Maha Suci  Tuhanku,  bukankah  aku  ini  hanya
seorang manusia yang menjadi Rasul?'" (Q.s. Al-Isra': 93).

Ayat di atas menunjukkan bahwa beliau adalah manusia seperti
manusia-manusia  lainnya,   tidak   memiliki   keistimewaan,
kecuali dengan wahyu dan risalah.

Nabi saw. menegaskan makna kemanusiaannya dan penghambaannya
terhadap Allah,  dan  memperingatkan  agar  tidak  mengikuti
kebiasaan-kebiasaan  dari  orang-orang  sebelum  kita, yaitu
penganut  agama-agama  terdahulu  dalam   hal   memuja   dan
menyanjung:

"Janganlah   kamu  sekalian  menyanjungku  sebagaimana  kaum
Nasrani menyanjung Isa putra Maryam. sesungguhnya aku adalah
hamba Allah dan Rasul-Nya." (H.r. Bukhari).

Nabi  yang  agung ini adalah manusia seperti manusia lainnya
dan  tidak  diciptakan  dari  cahaya  maupun  emas,   tetapi
diciptakan  dari  air  yang  memancar dan keluar dari tulang
sulbi  laki-laki  dan  tulang  rusuk  wanita  sebagai  bahan
penciptaan Muhammad saw.

Adapun dari segi risalah dan hidayat-Nya, maka beliau adalah
cahaya  Allah  dan  pelita  yang  amat   terang.   Al-Qur'an
menyatakan hal itu dan berbicara kepada Nabi saw.:

"Wahai Nabi sesungguhnya Kami mengutusmu untuk menjadi saksi
dan pembawa kabar gembira serta  pemberi  peringatan.  Untuk
menjadi  penyeru  pada agama Allah dengan izin-Nya dan untuk
menjadi cahaya yang menerangi."(Q.s. Al-Ahzab: 45-6).

Allah swt. berfirman yang ditujukan kepada Ahlulkitab:

"... Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya  dari  Allah,
dan Kitab yang menerangkan." (Q.s. Al-Maidah: 15).

"Cahaya"  dalam  ayat itu adalah Rasulullah saw, sebagaimana
Al-Qur'an yang diturunkan kepada beliau adalah juga cahaya.

 Allah swt. berfirman:

"Maka berimanlah  kamu  kepada  Allah  dan  Rasul-Nya  serta
cahanya   (Al-Qur  an)  yang  telah  Kami  turunkan."  (Q.s.
At-Taghaabun: 8).

"...  dan  telah  Kami  turunkan  kepada  kamu  cahaya  yang
terangbenderang." (Q.s. An-Nisa': 174).

Allah telah menentukan tugasnya dengan firman-Nya:

"...  Supaya kamu mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju
cahaya terang-benderang..." (Q.s. Ibrahim: 1).

Doa Nabi saw.:

"Ya Allah, berilah aku cahaya di dalam  hatiku  berilah  aku
cahaya  dalam  pendengaranku  dan  berilah  aku cahaya dalam
penglihatanku berilah aku cahaya dalam rambutku berilah  aku
cahaya   di  sebelah  kanan  dan  kiriku  di  depan  dan  di
belakangku." (H.r. Muttafaq Alaih)

Maka, beliau adalah Nabi pembawa cahaya  dan  Rasul  pembawa
hidayat.  Semoga  Allah  menjadikan kita sebagai orang-orang
yang mengikuti petunjuk cahaya dan Sunnahnya. Amin.